Pemerintah selangkah lagi menjadikan vaksin buatan dalam negeri, Indovac, sebagai vaksin penguat (booster) untuk COVID-19. PT Bio Farma (Persero) melakukan uji klinis ketiga vaksin COVID-19 Indovac untuk prosedur booster atau dosis ketiga, Senin (12/09). Sebanyak 900 relawan usia 18 tahun ke atas dari Bandung (Jawa Barat) dan Denpasar (Bali) dilibatkan untuk mendapatkan sertifikasi Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Usaha BUMN, Riset dan Inovasi, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Montty Girianna bersama dengan Wakil Menteri I Kementerian BUMN, Pahala Mansury turut hadir dalam kunjungan memantau uji klinis vaksin IndoVac yang merupakan vaksin buatan dalam negeri paling maju. Proses produksi vaksin IndoVac 100 persen dilakukan di dalam negeri. KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi vaksin IndoVac relatif sedikit. Efikasi vaksin IndoVac diharapkan bisa lebih baik dibandingkan dengan vaksin Sinovac. PT Bio Farma (Persero) juga telah mengajukan sertifikasi kehalalan IndoVac agar menjamin rasa aman masyarakat Indonesia. Ahli vaksin dari Universitas Padjadjaran, Kusnandi Rusmil didapuk menjadi Ketua Tim Uji Klinis vaksin IndoVac.

Vaksin IndoVac saat ini tengah menjalani uji klinis fase ketiga, bersamaan dengan uji klinis penggunaannya untuk booster. PT Bio Farma (Persero) telah mendaftarkan vaksin COVID-19 IndoVac yang dikembangkan PT Bio Farma (Persero) dan Baylor College of Medicine dalam daftar penggunaan darurat (emergency use listing/EUL) ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). Berdasarkan self-assessment, vaksin IndoVac memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 80 persen. Saat ini IndoVac telah melakukan uji klinis fase 1 (satu) dan 2 (dua), serta sedang dalam proses uji klinis fase 3 (tiga) untuk usia 18 tahun ke atas. Untuk uji klinis tahap ketiga, PT Bio Farma (Persero) melakukannya pada 4.030 relawan. Rencananya akan ada 900 vaksin booster bagi orang dewasa yang dilakukan di Bandung dan Bali.

Vaksin Merah Putih yang dikembangkan UNAIR-Biotis dinamakan Vaksin InaVac, dengan EUA untuk dosis primer pada usia 18 tahun keatas akan diperoleh pada akhir September dan untuk vaksinasi booster pada pertengahan Oktober. Sertifikat halal telah diperoleh pada bulan Februari. Produksi direncanakan sebanyak 10,5 juta dosis hingga akhir tahun 2022 dan minimal Sebanyak 40 juta dosis pada tahun 2023. Vaksin akan memproses EUL untuk pemanfaatan ekspor.

Published On: September 27th, 2022 / Categories: Berita /